Friday, 6 March 2015

Hantu itu tidak menyeramkan



Coba bayangkan jika aku berkata “Hantu”, pasti kalian akan membayangkan sesosok yang menyeramkan yang suka mengganggu ketenteraman harimu.

Hantu, itu merupakan makthluk gaib. Yaitu makhluk yang tidak dapat dilihat secara fisik. Namun, kadangkala mereka memunculkan wujudnya di hadapan mata manusia.

Hantu dapat berubah seperti apa yang di inginkan. Mereka berubah untuk mengelabuhi kita supaya untuk melemahkan rasa keyakinan kita.

Tapi pernahkah anda berfikir kenapa mereka bisa muncul menjadi sesuatu yang mengerikan atau menjadi orang yang dikenal?

Jawaban VERSI saya adalah mereka sebenarnya hanya berubah menjadi sebuah cermin. Memang yang dimaksudkan bukanlah cermin yang sering kita lihat. Mereka hanya memantulkan apa yang kita harapkan untuk di lihat. Bukan berarti kita berharap melihat cewek seksi atau apalah, hanya saja disaat sendiri dan berada di sebuah tempat yang dikatakan angker, rasa takut kitalah yang mengambil alih pikiran dan mempermainkan imajinasi kita akan hantu hantu yang pernah kita lihat.

Ingat waktu film suzanna? Dimana ada orang tiongkok yang sedang berdagang lalu suzanna yang berperan sebagai hantu membeli dagangan orang tiongkok. Orang tiongkok itu biasa aja tidak takut dengan pakaian yang menyeramkan dari suzanna karena dia tidak memproyeksikan pikirannya pada hantu ataupun sesuatu yang menyeramkan, dia memproyeksikan suzanna sebagai pembeli dan tidak ada yang aneh akan hal itu.

Jadi. Kenapa hantu itu bisa menyeramkan?

Sebenarnya hantu itu sama sekali tidak menyeramkan, hanya saja pikiran kitalah yang memproyeksikan hal yang menyeramkan itu menjadi kenyataan.

Kenapa wujud hantu itu selalu berbentuk sama seperti di TV atau gambar?

Sebenarnya… ini kesalahan acara tv atau didikan orangtua untuk tidak keluar rumah. Kita, manusia memiliki rasa imajinasi yang luas, kita bisa membuat hal yang “Impossible” menjadi “possible” karena itulah kita menjadi makhluk sempurna. Namun kelemahan manusia adalah keetika perasaan atau pikiran kita sedang lemah atau tidak terproteksi ini yang mejadi info acak acakan malah menjadi pedoman.

Sering terjadi yang disebut “Embedding Mind” yaitu pikiran kita yang terkunci pada hal yang pertama kali kita dengar. Disinilah kelemahan kita. Sehingga contoh hantu kuntilanak, penggambaran kita pasti seorang wanita dengan pakaian putih, rambut panjang blah blah…. Sebenarnya itu hanyalah sebuah Embedding Mind terhadap Kuntilanak. Kita dikasih info yang sebenarnya tidak valid yang berasal dari TV, cerita orang, dll….

SO, JIKA MERASA TAKUT.. JANGAN PIKIRKAN TENTANG HANTU… PIKIRKANLAH SESUATI YANG BISA MEMBELOKKAN RASA TAKUT TERHADAP HANTU, MISALNYA TUGAS LAPORAN YANG BELUM DIKERJAIN…HHEHEHE

ATAU PIKIRKAN HAL INI “JIKA AKU SENDIRIAN DI SEBUAH TEMPAT. DAN AKU MERASA TAKUT AKAN HANTU DI TEMPAT ITU, AKU SUDAH PASTI TIDAK SENDIRIAN DI TEMPAT ITU”

Eh iya… ini sekedar info lebih dalam tentang Embedding Mind (meskipun jauh) dari fanpage Creepypasta Indonesia

Pareidolia
source: urbanlejen

Pareidolia adalah suatu fenomena di mana otak memiliki kemampuan untuk mengenali sesuatu yg samar2 atau kombinasi acak menjadi sebuah objek yang jelas. Fenomena ini hampir dialami oleh semua orang dan seringkali terjadi ketika melihat sesuatu seperti wajah manusia, bentuk tubuh, gambaran binatang, atau bahkan sosok-sosok yang dikenal.

Pareidolia berasal dari kata Yunani yaitu Para (sama) dan Eidolon (gambar), maka Pareidolia memiliki arti sebuah gambar yang sama. Pareidolia dalam perkembangannya kemudian menjadi sangat erat dengan hal-hal yang berbau spiritual, baik itu kejadian mistis, maupun yang menunjukan kebesaran suatu kepercayaan(agama) atau Tuhan.

Pareidolia dalam agama dapat dilihat ketika orang-orang kemudian menganggap fenomena alam seperti awan, langit, atau kepulan asap, menjadi seperti sosok atau wajah yang disakralkan.

Sedangkan di kejadian mistis, orang-orang tertentu akan menganggap hal-hal seperti asap, kilasan cahaya, bayangan, menjadi sosok yang menakutkan seperti hantu atau mahluk halus.

Meski Pareidolia erat kaitannya dengan gambar(visual), fenomena psikologis itu juga bisa didefinisikan dengan sesuatu yang didengarkan(audio).

Di tahun 1971, Konstatin Raudive yang menjadi seorang peneliti EVP(Electronic Voice Phenomenon), menulis dalam bukunya tentang hal-hal yang didengarnya dengan sebuah aat dalam frekuensi tertentu sebagai suara-suara dari alam lain,suara hantu, atau mahluk halus.

Dari sana fenomena semacam EVP, termasuk backmasking dalam musik juga kemudian dimasukkan sebagai Pareidolia pendengaran. Beberapa ahli lalu mengemukakan penyebab seseorang atau manusia bisa memiliki kemampuan Pareidolia.

Dari hipotesis atau dugaan sementara, kemampuan ini memang sudah bawaan sejak lahir dan disebabkan oleh faktor genetik manusia itu sendiri ketika berevolusi dari masa ke masa. Di masa lalu, ras manusia terbiasa mengenali sesuatu yang acak, tak berpola atau berpola, cahaya, atau bayangan, menjadi sebuah objek.

Kemampuan itu kemudian dianggap sebagai keuntungan evolusioner, yaitu kemampuan membeda-bedakan objek-objek yang menyelamatkan atau merugikan, mengancam atau tidak, berbahaya atau aman.

Manusia yang tanpa sengaja salah mengenali wajah musuh atau teman, tentu akan berakibat fatal baginya, juga salah mengidentifikasi suatu objek bisa saja membuatnya menderita. Maka hal ini, terus dibawa secara genetik hingga kini dan menjadi kemampuan dasar manusia.

referensi & sumber : Fanpage Creepypasta Indonesia

0 comments:

Post a Comment